Pola Keruangan Wilayah Desa

Pola Keruangan Wilayah Desa

Pola Keruangan Wilayah Desa

Pola keruangan desa dapat dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor sosial. Faktor alam yang memengaruhi pola keruangan desa, antara lain iklim, tanah, topografi, sumber daya air, dan keberadaan sumber daya alam lainnya. Faktor sosial yang memengaruhi pola keruangan desa, meliputi adat istiadat, kebudayaan, tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan penduduk.

Menurut Bintarto, berdasarkan kondisi fisik wilayah, pola keruangan desa dapat dibedakan sebagai berikut.

  1.    Pola Memanjang/Linier (Line Village Community)

Pola memanjang/linier biasanya terbentuk di desa yang berada di sepanjang jalan, jalur sungai, atau pantai.

  1.    Pola Mengelompok (Nucleated Agricultural Village Community)

Pola mengelompok dapat dilihat pada rumah penduduk yang terletak menggerombol di lokasi tertentu serta berdekatan satu sama lain.

  1. Pola Menyebar (Open Country or Tride Center Community)

Pola menyebar biasanya terbentuk di daerah yang memiliki topografi homogen, namun tingkat kesuburan tanah tidak merata. Antara rumah yang satu dengan yang lain terdapat jalur sebagai jalan penghubung.

Pola keruangan desa dapat ditunjukkan oleh keberadaan sistem perhubungan atau pengangkutan. Sistem perhubungan di desa ditentukan oleh faktor topografi, usaha manusia, dan letak. Setiap desa mempunyai kondisi topografi dan usaha manusia yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan jenis sistem perhubungan dan pengangkutan masing-masing desa juga berbeda.

Sistem perhubungan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat desa. Menurut Giyarsih (2003), kemudahan transportasi akan memberikan banyak keuntungan, seperti memudahkan interaksi dengan dunia luar, meningkatkan aksesibilitas suatu wilayah sehingga mendorong kemajuan wilayah tersebut, mendapatkan pelayanan dan fasilitas dari tempat lain, efisiensi kerja masyarakat perdesaan, serta membuka jalan komunikasi antardaerah. Melalui sistem perhubungan yang baik, suatu desa akan didorong untuk maju, masyarakatnya sejahtera, dan wilayahnya dapat terus berkembang.

Sistem perhubungan desa dapat dibedakan berdasarkan desa yang bertopografi datar dan desa yang bertopografi berbukit. Di desa yang bertopografi datar, sistem perhubungan dapat ditempuh dengan alat transportasi tradisional, berupa gerobak, delman, atau alat transportasi modern, seperti mobil dan truk. Hal tersebut banyak dijumpai di desa-desa yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra. Sementara itu, desa-desa di Pulau Kalimantan yang wilayahnya dihubungkan oleh sungai, sarana transportasi yang digunakan berupa feri, perahu, atau rakit. Di wilayah desa yang topografinya berbukit, sarana perhubungan dan angkutan dapat dilakukan dengan kendaraan berat, seperti truk dan pesawat terbang. Kendaraan tradisional cenderung sulit untuk menempuh wilayah yang berbukit-bukit ini.


Sumber:

https://kelasips.co.id/