Pelaksanaan Perjanjian

Pelaksanaan Perjanjian

Pelaksanaan Perjanjian

Itikad baik dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata

merupakan ukuran objektif untuk menilai pelaksanaan perjanjian, artinya pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Salah satunya untuk memperoleh hak milik ialah jual beli.
Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya.
Jadi perjanjian itu mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa. Perjanjian yang telah dibuat secara sah mengikat pihak-pihak, perjanjian tersebut tidak boleh diatur atau dibatalkan secara sepihak saja.

 

Pembatalan Perjanjian

Suatu perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yang membuat perjanjian ataupun batal demi hukum. Perjanjian yang dibatalkan oleh salah satu pihak biasanya terjadi karena;
–  Adanya suatu pelanggaran dan pelanggaran tersebut tidak diperbaiki dalam jangka waktu yang ditentukan atau tidak dapat diperbaiki.
–  Pihak pertama melihat adanya kemungkinan pihak kedua mengalami kebangkrutan atau secara financial tidak dapat memenuhi kewajibannya.
– Terkait resolusi atau perintah pengadilan
– Terlibat hokum
– Tidak lagi memiliki lisensi, kecakapan, atau wewenang dalam melaksanakan perjanjian

padding-right: 0px; padding-bottom:

0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; vertical-align: baseline; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; list-style-type: decimal; list-style-position: initial; list-style-image: initial; “>Pemenuhan perikatan

  • Pemenuhan perikatan dengan ganti rugi
  • Ganti rugi
  • Pembatalan persetujuan timbale balik, atau
  • Pembatalan dengan ganti rug

Sumber : https://duniapendidikan.co.id/