Papper Cutting, Berkarya dengan Menggunting

Papper Cutting, Berkarya dengan Menggunting

Papper Cutting, Berkarya dengan Menggunting

Salsabil menatap tajam kertas putih di atas meja. Dengan papper cut di tangan kanan, Siswi SMAN 16 Bandung

itu sedang mengukur kerapihan  kertas yang telah ia gunting. Ia harus memastikan pengguntingan yang dilakukan sesuai dengan sketa yang telah digambar.

Di saat yang sama, Putri, dengan hati-hati menggoreskan tinta di kertas berukuran 50 x 70 cm tersebut. Ia sedang menebalkan sketsa yang sebelumnya diukir menggunakan pensil.  Melenceng sedikit saja, maka proses pengguntingan akan terhambat. Jika memandang dari atas, terlihat gambar wayang golek yang timbul setelah sebagian besar kertas tergunting.

Bukan tanpa alasan mengapa proses pembuatan papper cutting teramat hati-hati. Karena, jika tepian kertas gloria tersebut sobek, maka pengerjaannya harus dimulai dari awal kembali.

“Salah satu kuncinya adalah ketelitian, selain itu dibutuhkan juga kesabaran dan kerjasama

yang harus dimiliki siswa,” ucap guru Seni Budaya SMAN 16 Bandung, Argi Pangayasti saat ditemui di sekolah, Jalan Mekarsari nomor 27, Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat, (8/3/2019).

Argi mengatakan, pembuatan karya papper cutting merupakan salah satu tugas praktek dari mata pelajaran yang ia ampu. Selain itu, alat yang harus disiapkan pun cukup sederhana, yaitu kertas gloria, kertar karton, pensil, pulpen, cutter dan figura.

“Meskipun sederhana, namun karya tersebut dapat bernilai ekonomis. Jika misalnya kita jual, harganya bisa mencapai kisaran 300 ribu rupiah, tergantung tingkat kesulitannya,” ucapnya.

Proses Pembuatan

Dalam proses pembuatannya, Argi menuturkan terbagi menjadi beberapa tahap, yakni pembuatan sketsa,

penebalan sketsa, pemotongan serta framing. Dia pun memberikan waktu satu bulan bagi para siswa untuk mengerjakan tugas tesebut.

“Pembuatannya dilakukan dengan berkelompok, agar lebih efisien serta meningkatkan kerjasama antar siswa,” tuturnya.

Melalui pembuatan karya ini pula, sekolah berupaya menerapkan pendidikan karakter kepada siswa, dimulai dari kerja sama, sabar, teliti, semangat dan pantang menyerah. Hal tersebut pun dirasakan oleh salah satu siswi, Putri Utami.

“Awalnya emang kelihatan sulit dan ribet. Tapi kuncinya memang harus tekun dan teliti, jadi bisa,” tutur siswi kelas Xi MIPA 4 tersebut.

Total tidak kurang dari 50 buah karya yang telah dihasilkan oleh siswa. Atas intruksi kepala sekolah, semua karya tersebut dijajakan di seluruh lingkungan sekolah, baik di dinding kelas, lobi, bahkan di ruangan.

Unggulan

Kepala SMAN  16 Bandung, Aam Hamzah mengapresiasi karya siswanya tersebut. Dia mengatakan telah melakukan koordinasi dengan salah satu bank swasta yang tertarik untuk  membeli karya siswanya tersebut sebagai cinderamata. “Kita sudah lakukan komunikasi, semoga saja dapat terealisasi. Selain itu, kita juga berencana untuk melakukan pameran,” ucapnya.

Dia juga mengatakan, bidang kesenian adalah salah tiga dari program unggulan yang dicanangkan sekolah yang berdiri pada tahun 1982 tersebut. Dua lainnya adalah ekstrakulikuler futsal dan pramuka.***

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/